J A L A I N D R A

jejaring peristiwa - jejaring kata - jejaring imagi - jejaring diri

(http://jalaindra.wordpress.com)

205 posts, displaying page 1 of 14 | Refresh

Jika saja aku tak pernah tersesat ke kota itu, mungkin negeri kita tidak akan pernah memiliki senja seindah senja yang bisa kita nikmati saat ini, Allea. Kau tentunya masih ingat ketika pejabat negeri kita melakukan sayembara untuk melukis senja. Kau bersikeras menyuruhku untuk ikut serta. Padahal aku tidak ingin membagi dengan orang lain apa yang telah kubagi kepadamu tentang senja yang kulihat d...

Aku terbangun pada suatu malam dan mendapati sekujur tubuhku telah berubah menjadi kunang-kunang. Cahaya kuning kehijauan berpendar dari sekujur tubuhku. Namun jangan kau bayangkan kalau jemariku berpendar, atau kakiku. Karena sekujur tubuhku telah berubah menjadi benar-benar kunang-kunang. Jangan juga kau bayangkan aku menjadi kunang-kunang raksasa, karena aku melihat semua benda di kamarku menda...

… seperti batu. tak berpikir. tak mengingat. tak membayang. tak ingin kubuka mata telinga untuk kebenaran selain dari-Mu. jatuh di permukaanku yang keras. setetes demi setetes. lalu retak. lalu meledak. lalu berkeping-keping. lalu puing. di setiap puingnya kubersujud. menunggu jawab-Mu.

… sujud di telapak kaki waktu-Mu, atas segala luka kenangan, hati yang ingkar. Ya, semua terserah titah-Mu. aku hanya boneka. tapi kenapa Kau beri aku mimpi-mimpi dan angan untuk Kau renggut dengan tiba-tiba. diri yang tak berpasrah. selalu penuh keluh kesah. Ya, semua terserah titah-Mu. putih hitam hati kami. bening berjelaga jiwa-jiwa kami. Ya, semua adalah kuasa-Mu. aku hanyalah kapas. ak...

… jika esok tak pernah ada, aku hanya ingin menutup mata tuk terakhir kalinya di pangkuanmu, di pelukmu, di kecupmu dan kan kujemput Izrail di katup bibirmu.

… aku akan memohon dalam ketanpadayakuasaanku agar angin-Nya menerbangkanku menujumu, hingga aku bisa membalut sakit dan membasuh lukamu.

… bara api di genggaman. tangan melepuh. tapi Kau tetap saja berbisik. genggam. genggam. genggam. akan kuhembuskan nafas-Ku. pada saatnya nanti akan membeku. menjadi es. menjadi mutiara. menjadi danau. menjadi sungai. tapi Kau malah meniupkan badai-Mu. samudra api berkobar. aku tenggelam dalam pijarnya. aku lepuh dalam jilatnya. menjadi abu. hilang.

… seperti mengupas bawang, semakin mengupas lebih dalam, semakin ingin tahu, semakin yang kita temukan adalah air mata.. kekosongan.. kehampaan.. ketiadaan.. kehilangan..

… Kukira aku adalah elang, dengan sayap angkuhnya akan menjelajah setiap badai dan pusaran angin, lalu akan hinggap di tempat manapun yang ingin kutuju. Tapi aku hanyalah sehelai kapas, terhempas, terombang-ambing badai MU, kuikuti kemana angin MU menuju, tanpa kuasa, tanpa daya. Tuhan, bagaimana aku bisa ikhlas?

… tiba-tiba, Kau terasa begitu jauh.. aku tak sanggup menggapai Mu dengan seluruh kesabaran dan keikhlasanku.

Pada suatu malam bermimpi. Saya mendapati diri saya menjadi seorang ksatria yang tengah terpojok di sudut sebuah istana bersama dengan para ksatria lain. Di luar, ribuan monster dan makhluk aneh berwujud mengerikan tengah bergerak bergelombang-gelombang menyerbu istana. Tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri. Jalan satu-satunya adalah menghadapi serbuan monster-monster itu apapun yang terjadi...

Saya heran, kenapa buku ini di negera asalnya dikategorikan ke dalam buku anak-anak dan remaja. Padahal, membaca konsep dan muatan di dalamnya, buku ini layak untuk dikategorikan ke dalam buku dewasa. Sementara anak-anak dan remaja di negara kita disuguhi bacaan-bacaan klise percintaan ala teenlit, di negara lain telah disuguhi The Hunger Games yang penuh dengan alegori kekinian, pertarungan hidup...

Bertahun-tahun ia telah berjalan dari kota ke kota, singgah di banyak tempat, bertemu dengan bermacam orang, namun tak pernah sekalipun terbersit keinginan untuk tinggal di salah satunya dan hidup bersama orang-orang baik hati yang ia temui. Namun pada suatu senja yang remang, ketika ia tengah berdiri sejenak di bawah lampu jalan yang mulai menyala dan matanya tak sengaja menangkap sosok seorang g...

Entah sudah berapa bulan lamanya sebuah poci tanah liat tergeletak begitu saja di dalam kamar saya. poci itu dibawa oleh seorang teman, mungkin dimaksudkan untuk mewadahi air minum, mengingat dispenser yang biasa dipakai bocor. Tapi nyatanya, poci itu tidak terpakai sama sekali, saya dan kawan-kawan lebih memilih untuk menuang begitu saja air minum dari galon aqua ke gelas atau ke botol-botol keci...

Untuk mengisi kekosongan posting cerpen di blog ini, saya postingkan sebuah cerpen agak lama. Semoga berkenan. Bayangan antrean manusia di jalan kota kian memanjang seiring matahari yang perlahan tergelincir ke belahan langit barat. Pun semakin lama, antrean itu kian memanjang. Satu persatu manusia mulai berdatangan dan menempati antrean di belakang pendatang sebelumnya. Seorang lelaki tua bung...
cucikarpet.com